PASURUAN, Deva-news.com
Upaya pengembangan dan penerapan teknologi pengolahan sampah terus diperkuat di Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) untuk meningkatkan kualitas minyak hasil konversi sampah plastik menjadi bahan bakar yang lebih murni dan siap pakai, Senin (10/8/2026).
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh tim dosen dan mahasiswa Departemen Kimia ITS. Di antaranya adalah Dra. Ita Ulfin, M.Si., Prof. Dr. Hendro Juwono, M.Si., Prof. Suprapto, M.Si., Ph.D., Erfan Rofianto, dan Slamet. Kehadiran mereka disambut hangat oleh jajaran Pemerintah Desa Randupitu serta pengurus dan anggota PEMPES Community.
Setelah sesi pembukaan, tim ITS meninjau langsung fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) PEMPES. Di lokasi tersebut, tim pakar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap peralatan pirolisis yang digunakan untuk mengubah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Evaluasi teknis yang dilakukan meliputi pemeriksaan spesifikasi dan kinerja mesin, pemantauan proses pirolisis, pengujian kualitas minyak hasil konversi, serta identifikasi peluang peningkatan mutu produk akhir.
Hasil peninjauan lapangan ini kemudian dibahas secara mendalam bersama pengelola TPS3R PEMPES. Diskusi strategis tersebut melahirkan sejumlah rumusan perbaikan proses dan modifikasi peralatan. Langkah ini diambil agar teknologi pengolahan sampah yang berjalan di desa tersebut dapat menghasilkan bahan bakar berkualitas tinggi dan sesuai dengan standar pemanfaatan langsung.
Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim pengabdi ITS atas kepedulian dan transfer teknologi yang diberikan kepada warganya.
"Kami sangat berterima kasih atas kehadiran tim Departemen Kimia ITS. Pendampingan teknologi ini sangat kami butuhkan agar pengolahan sampah di desa kami tidak sekadar jalan, tetapi benar-benar menghasilkan produk bahan bakar yang optimal dan bernilai guna tinggi," ujar Mochammad Fuad.
Fuad menambahkan, kolaborasi ini menjadi suntikan motivasi bagi pengelola TPS3R PEMPES untuk terus berinovasi demi kesejahteraan lingkungan.
"Dengan adanya evaluasi teknis dari para pakar ITS, kami optimistis TPS3R PEMPES bisa menjadi mandiri dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat melalui pemanfaatan bahan bakar hasil pirolisis ini," jelasnya.
Sinergi ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara dunia akademik, pemerintah desa, dan komunitas masyarakat dalam mengurai masalah sampah. Melalui program PkM ini, Departemen Kimia ITS menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang berdampak langsung bagi masyarakat bawah.
Melalui inovasi pirolisis yang tepat guna, TPS3R PEMPES di Desa Randupitu kini berpotensi besar menjadi model percontohan untuk pengelolaan sampah berbasis teknologi. Program ini sekaligus mengimplementasikan partisipasi aktif warga yang sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.

0 Komentar