SIDOARJO, Deva-news.com
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menargetkan eliminasi tuberkulosis (TB) dapat tercapai pada tahun 2028. Target ini dua tahun lebih cepat daripada target eliminasi nasional yang ditetapkan pada tahun 2030. Untuk mempercepat target tersebut, Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Sidoarjo didorong aktif melakukan deteksi dini, pendampingan pasien, hingga edukasi lingkungan sehat.
Ketua TP PKK Kabupaten Sidoarjo, Sriatun Subandi, menegaskan bahwa PKK memiliki peran strategis sebagai motor penggerak sekaligus ujung tombak penanganan TB di tengah masyarakat.
“PKK fokus pada deteksi dini, pendampingan pasien, dan promosi lingkungan sehat untuk memutus rantai penularan tuberkulosis,” ujar Sriatun saat membuka Sosialisasi Peran PKK dalam Penanggulangan TBC Berbasis Lingkungan di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (21/5/2026).
Sriatun menjelaskan, seorang ibu memiliki peran besar sebagai "insinyur rumah tangga" yang menentukan kualitas kesehatan keluarga. Ibu memiliki kekuatan untuk mengatur tata letak, kebersihan, pencahayaan, dan ventilasi agar rumah menjadi hunian yang sehat.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengampanyekan gerakan “Pentasuling” (Pepe Bantal, Kasur, dan Guling). Langkah sederhana menjemur perlengkapan tidur ini dinilai efektif mencegah kelembapan dan penyebaran penyakit.
Selain faktor lingkungan, Sriatun mengingatkan pentingnya dukungan moral bagi pasien agar tidak merasa minder atau dikucilkan. Pasien TB harus dibantu agar disiplin menggunakan masker, rutin kontrol, dan menjaga pola makan sehat yang tidak harus mahal.
Sementara itu, dokter spesialis paru, dr. Bagus Wicaksono, menjelaskan bahwa satu penderita TB yang tidak ditangani dapat menularkan penyakit kepada 15 hingga 20 orang lainnya. Masyarakat diminta waspada jika mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, batuk darah, sesak napas, dan nyeri dada.
"TB bisa sembuh total jika ditemukan lebih awal dan pasien disiplin menjalani pengobatan," kata dr. Bagus.
Terkait kondisi hunian, Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI), Khusnul Khotimah, menyebutkan faktor penentu penularan meliputi ventilasi, pencahayaan, kepadatan penghuni, dan kebersihan. Rumah yang sehat idealnya memiliki ventilasi cukup dengan tingkat kelembaban sekitar 60 persen.
Dari sisi data medis, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Djoko Setijono, memaparkan saat ini tercatat ada sekitar 5.800 kasus TB di Sidoarjo. Capaian penanganan sejauh ini telah mencapai 91 persen atau sekitar 5.700 kasus.
Demi menyukseskan target eliminasi 2028, Dinkes Sidoarjo telah menyiagakan layanan pengobatan di 170 fasilitas pelayanan kesehatan (faskes). Pemkab Sidoarjo juga terus memperluas sarana pengobatan, menggencarkan screening masif, memperkuat pembentukan Desa Siaga TB, serta mendorong pemenuhan imunisasi dasar lengkap bagi anak. (*)

0 Komentar