Ticker

6/recent/ticker-posts

Jaga Kerukunan Lewat Budaya, Desa Randupitu Pasuruan Rutinkan Doa Bersama Setiap Kamis Pon



PASURUAN, Deva-news.com
Pemerintah Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, kembali membuktikan diri sebagai desa yang kaya akan inovasi. Di tengah geliat pembangunan fisik, desa ini menghadirkan terobosan baru yang berakar kuat pada nilai spiritual dan kearifan lokal budaya Jawa.

Suasana di musala Balai Desa Randupitu pada Kamis (16/04/26) tampak berbeda. Sejak pukul 07.00 WIB, Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa berkumpul, duduk lesehan dalam suasana khidmat untuk mengikuti istighosah dan doa bersama.

Lantunan doa yang dipimpin oleh Mudin Desa menggema pelan, menghadirkan ketenangan bagi seluruh hadirin yang larut dalam kekhusyukan. Momen ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan simbol ikhtiar batin agar kehidupan masyarakat Randupitu senantiasa diliputi keberkahan dan kerukunan.

Usai doa bersama, suasana yang awalnya khidmat berubah menjadi hangat dan penuh kegembiraan. Seluruh hadirin menikmati hidangan sederhana berupa jajan pasar dan nasi bungkus. Kebersamaan dalam kesederhanaan ini menjadi penutup manis bagi kegiatan yang sarat makna tersebut.

Menariknya, kegiatan rutin ini diberi nama “Doa Kamis Pon”. Nama yang unik ini ternyata menyimpan filosofi mendalam yang memadukan nilai agama dan budaya.

Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan agar seluruh warga tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama.

"Ini adalah 'Kamis Pon' perdana yang kami laksanakan. Maknanya agar warga di seluruh dusun tetap teguh memegang rukun Islam," ujar Kades Fuad.

Ia menjelaskan, penamaan "Kamis Pon" diambil dari perhitungan kalender Jawa yang simbolik. Dalam neptu Jawa, Kamis bernilai 8 dan Pon bernilai 7. Jika dijumlahkan, hasilnya adalah 15.

"Di Desa Randupitu ada tiga dusun. Angka 15 itu jika dibagi tiga hasilnya adalah 5. Angka 5 inilah yang kami maknai sebagai simbol Rukun Islam. Artinya, kami berharap seluruh dusun di Randupitu selalu berlandaskan pada rukun Islam dalam kehidupan bermasyarakat," tambahnya.

Bagi Fuad, hitungan tersebut bukan sekadar angka, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur. "Kami sengaja memilih hitungan Jawa karena kami orang Jawa. Tradisi leluhur tidak boleh hilang; ini adalah bagian dari pelestarian budaya," tegasnya.

Kegiatan Doa Kamis Pon ini dipastikan akan menjadi agenda rutin di Desa Randupitu dengan Mudin Desa sebagai penanggung jawab pelaksanaannya. (*)

Posting Komentar

0 Komentar